PENGARUHI IBADAH BAGI SEORANG MUSLIM

PENGARUHI IBADAH BAGI SEORANG MUSLIM

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni

Syariat Islam yang mencakup akidah (keyakinan), ibadah dan mu’amalah, diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna, untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Karena termasuk fungsi utama petunjuk Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân dan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah untuk membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari semua kotoran dan penyakit yang menghalanginya dari semua kebaikan dalam hidupnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (hati/jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al Qur`ân) dan al-Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Ali ‘Imrân/3:164]

Makna firman-Nya “mensucikan (hati/jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Azza wa Jalla ). [1]

Maka kebersihan hati seorang Muslim merupakan syarat untuk mencapai kebaikan bagi dirinya secara keseluruhan, karena kebaikan seluruh anggota badannya tergantung dari baik/bersihnya hatinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal (daging), yang kalau segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh (anggota) tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh (anggota) tubuhnya), ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (manusia).”[2]

HIKMAH AGUNG DISYARIATKANNYA IBADAH
Inilah hikmah agung disyariatkannya ibadah kepada manusia, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla tegaskan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[3] hidup bagimu. [al-Anfâl/8:24]

Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan dan kemashlahatan merupakan sifat yang selalu ada pada semua ibadah dan petunjuk yang diserukan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam . Dan ini sekaligus menjelaskan manfaat dan hikmah agung dari semua ibadah yang Allah Azza wa Jalla syariatkan, yaitu bahwa bersih dan sucinyanya hati dan jiwa manusia, yang merupakan sumber kebaikan dalam dirinya[4] , hanyalah bisa dicapai dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan menetapi ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.[5]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hikmah yang agung ini dalam ucapan beliau: “Tujuan utama dari semua ibadah dan perintah (Allah Azza wa Jalla dalam agama Islam) bukanlah untuk memberatkan dan menyusahkan manusia. Meskipun hal itu mungkin terjadi pada sebagian ibadah dan perintah tersebut sebagai akibat sampingan, karena adanya sebab-sebab yang menuntut keharusan terjadinya hal itu. Ini merupakan konsekuensi kehidupan di dunia. Semua perintah Allah Azza wa Jalla, hak-Nya (ibadah) yang Dia wajibkan kepada hamba-hamba-Nya, serta semua hukum yang disyariatkan-Nya pada hakekatnya merupakan qurratul ‘uyûn (penyejuk pandangan mata), serta kesenangan dan kenikmatan bagi hati manusia, yang dengan semua itulah hati akan terobati, merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kesempurnaan di dunia dan akhirat. Bahkan hati manusia tidak akan merasakan kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan yang hakiki kecuali dengan semua itu. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah:”Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” [Yûnus/10:57-58][6]

Inilah makna ucapan Sahabat yang mulia, `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu yaitu: “Sesungguhnya amal kebaikan ibadah itu memiliki pengaruh baik berupa cahaya di hati, kecerahan pada wajah, kekuatan pada tubuh, tambahan pada rezki dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya perbuatan buruk (maksiat) itu sungguh memiliki pengaruh buruk berupa kegelapan di hati, kesuraman pada wajah, kelemahan pada tubuh, kekurangan pada rezki dan kebencian di hati manusia.”[7]

PENGARUH POSITIP IBADAH BAGI SEORANG MUSLIM
Untuk memperjelas keterangan di atas, berikut ini kami akan sampaikan beberapa poin penting yang menunjukkan besarnya pengaruh positif ibadah dan amal shaleh yang dikerjakan seorang Muslim dalam kehidupannya.

1. Kebahagiaan dan kesenangan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat
Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh (ibadah), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [an-Nahl/16:97]

Para Ulama salaf menafsirkan makna “kehidupan yang baik (di dunia)” dalam ayat di atas dengan “kebahagiaan (hidup)” atau “rezki yang halal dan baik” dan kebaikan-kebaikan lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup yang hakiki.[8]

Sebagaimana orang yang berpaling dari petunjuk Allah Azza wa Jalla dan tidak mengisi hidupnya dengan beribadah kepada-Nya, maka Allah Azza wa Jalla akan menjadikan sengsara hidupnya di dunia dan akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” [Thâha/20:124][9]

2. Kemudahan semua urusan dan jalan keluar/solusi dari semua masalah dan kesulitan yang dihadapi
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. [ath-Thalâq/65:2-3]

Ketakwaan yang sempurna kepada Allah Azza wa Jalla tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah yang wajib dan sunnah (anjuran), serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Azza wa Jalla .[10]

Dalam ayat berikutnya Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” [ath-Thalâq/65:4]

Artinya: Allah Azza wa Jalla akan meringankan dan memudahkan semua urusannya, serta memberikan baginya jalan keluar atau solusi yang segera untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.[11]

3. Penjagaan dan taufik dari Allah Azza wa Jalla
Dalam sebuah hadits yang shahîh, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada `Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu :

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla , maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.”[12]

Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah Azza wa Jalla ” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepadanya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[13] Dan makna “kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu.[14]

Keutamaan yang agung ini hanyalah Allah Azza wa Jalla peruntukkan bagi orang-orang yang mendapatkan predikat sebagai wali (kekasih) Allah Azza wa Jalla , karena mereka selalu melaksanakan dan menyempurnakan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla , baik ibadah yang wajib maupun sunnah (anjuran). Dalam sebuah hadits qudsi yang shahîh Allah Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah menyatakan perang (pemusuhan) terhadapnya. Tidak ada seorang hambapun yang beribadah kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada ibadah yang telah Aku wajibkan padanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (ibadah-ibadah) yang sunnah (anjuran/tidak wajib) sehingga Aku pun mencintainya…”[15] .

4. Kemanisan dan kelezatan iman, yang merupakan tanda kesempurnaan iman
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ اْلإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb–nya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad n sebagai rasulnya.”[16]

Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, berkata: “Orang yang tidak menghendaki selain (ridha) Allah Azza wa Jalla , dan tidak menempuh selain jalan agama Islam, serta tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang memiliki sifat-sifat ini, maka niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya sehingga dia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut (secara nyata).”[17]

Sifat inilah yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , yang semuanya mereka capai dengan taufik dari Allah Azza wa Jalla dan kemudian karena ketekunan dan semangat mereka dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para Sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. [al-Hujurât/49:7]

5. Keteguhan iman dan ketegaran dalam berpegang teguh dengan agama Allah Azza wa Jalla .
Allah Azza wa Jalla berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. [Ibrâhîm/14:27]

Ketika menafsirkan ayat ini Imam Qatâdah rahimahullah[18] berkata: “Adapun dalam kehidupan dunia, Allah Azza wa Jalla meneguhkan iman mereka dengan perbuatan baik (ibadah) dan amal shalih.”[19]

Fungsi ibadah dalam meneguhkan keimanan sangat jelas sekali, karena seorang Muslim yang merasakan kemanisan dan kenikmatan iman dengan ketekunannya beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla , maka setelah itu – dengan taufik dari Allah Azza wa Jalla – dia tidak akan mau meninggalkan keimanannya meskipun dia harus menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan dalam mempertahankannya, bahkan semua cobaan tersebut menjadi ringan baginya.

Gambaran inilah yang terjadi pada para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keteguhan mereka sewaktu mempertahankan keimanannya untuk menghadapi permusuhan dan penindasan orang-orang kafir Quraisy, di masa awal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendakwahkan Islam. Sebagaimana disebutkan dalam percakapan antara Abu Sufyân dan raja Romawi Hiraqlius, yang dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Di antara pertanyaan yang diajukan oleh Hiraql kepada Abu Sufyân waktu itu: “Apakah ada di antara pengikut (Sahabat) Nabi itu (Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ) yang murtad (meninggalkan) agamanya karena dia membenci agama tersebut setelah dia memeluknya?” Maka Abu Sufyân menjawab: “Tidak ada”. Kemudian Hiraql berkata: “Memang demikian (keadaan) iman ketika kemanisan iman itu telah masuk dan menyatu ke dalam hati manusia”[20] .

PENUTUP
Beberapa poin yang kami sebutkan di atas jelas menggambarkan bagaimana manfaat dan pengaruh positif ibadah dan amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim bagi dirinya. Masih banyak poin lain yang tentu tidak mungkin disebutkan semuanya.

Semoga tulisan ini menjadi motivasi bagi kita untuk semakin giat dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla , serta berusaha untuk membenahi amal ibadah yang sudah kita lakukan selama ini agar benar-benar sesuai dengan petunjuk dan syariat Allah Azza wa Jalla .

_______
Footnote
[1]. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 1/267.
[2]. HSR al-Bukhâri no. 52 dan Muslim no. 1599.
[3]. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 4/34.
[4]. Lihat kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 55 – Mawâridul amân.
[5]. Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 213.
[6]. Kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 75-76 – Mawâridul amân).
[7]. Dinukil oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Istiqâmah 1/351 dan Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wâbilush shayyib hlm. 43.
[8]. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (2/772).
[9]. Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul lahfân hlm. 60 – Mawâridul amân).
[10]. Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jâmi’ul Ulûmi Wal Hikam hlm. 197.
[11]. Tafsîr Ibnu Katsîr 4/489.
[12]. HR at-Tirmidzi no. 2516, Ahmad 1/293 dan lain-lain, dinyatakan shahîh oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ish Shagîr no. 7957.
[13]. Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jâmi’ul Ulûmi Wal Hikam hlm. 229.
[14]. Ibid hlm. 233.
[15]. HSR al-Bukhâri no. 6137.
[16]. HSR Muslim no. 34.
[17]. Syarh shahîh Muslim 2/2.
[18]. Beliau adalah Qatâdah bin Di’âmah as-Sadûsi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), Imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah n (lihat kitab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 409).
[19]. Dinukil oleh Imam Ibnu Katsîr dalam tafsir beliau 2/700.
[20]. HSR al-Bukhâri no. 7.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s